Mencari Modal Usaha Melalui Crowdfunding

20140217-090803.jpgMungkin tak akan ada halangan berarti bila sebuah usaha berdiri dengan modal berlimpah. Namun bagaimana dengan tanpa Modal ? Usaha apapun dan sekecil apapun pasti tetap membutuhkan modal pada saat awal-awal berdiri. Bagi kalangan berada, hal ini jelas bukan masalah. Tapi bagaimana dengan kalangan terbatas yang kesulitan mengakses modal? Apakah memulai bisnis hal merupakan yang mustahil? Apa itu crowdfunding? Crowdfunding berasal dari bahasa Inggris, yakni crowd artinya ramai, dan funding artinya pendanaan. Jadi simpelnya, crowdfunding adalah pendanaan usaha yang dilakukan oleh banyak pihak atau dalam istilah di Indonesia disebut patungan usaha (gotong royong). Lalu, bagaimana caranya mencari orang-orang yang mau membiayai ide usaha kita? Jawabannya adalah lewat internet! Crowdfunding adalah salah satu metode pendanaan bisnis alternatif yang saat ini cukup happening di bidang industri kreatif di Indonesia maupun di dunia.

Konsep berupa patungan usaha sebenarnya telah muncul berabad-abad silam, namun istilah “Crowdfunding” awalnya mulai populer sekitar tahun 2006 ketika Michael Sullivan menggunakan istilah tersebut dalam situsnya, Fundavlog. Patungan modal dalam crowdfunding dilakukan dengan bantuan internet. Menggalang dana dalam konsep crowdfunding bukan hanya untuk tujuan bisnis, tetapi ada pula untuk tujuan kemanusiaan, kesenian, riset, politik dan lainnya

Mencari dana untuk merealisasikan sebuah ide atau bisnis tidaklah mudah. Bila dana dari kantong sendiri tidak mencukupi, kita harus mencari dana lain yang mungkin berasal dari bank, investor, atau sponsor yang tertarik mendanai. Dalam perjalanannya, tidak jarang kita harus berkompromi dengan idealisme semula.

Namun, kehadiran teknologi dan tumbuh suburnya media sosial membuat soal pendanaan tidak lagi sesulit sebelumnya. Crowdfunding hadir sebagai solusi permodalan bagi para startup dan kreator muda. Sudah banyak kisah sukses yang semuanya berawal dari crowdfunding. Sebut saja Ouya, Pebble, NEO3DO, dan masih banyak lagi. Tapi juga banyak kisah kelam dan kontroversi yang terjadi dari sana.

Crowdfunding sendiri merupakan skema pendanaan alternatif dengan memanfaatkan jaringan internet, yang biasanya digunakan untuk kegiatan sosial ataupun mengembangkan bisnis. Model seperti ini biasanya berpusat pada satu situs atau website, yang menginisiasi pengumpulan dana. Di Amerika, kickstarter.com dianggap sebagai situs yang mulai mempopulerkan sistem pendanaan ini. Ada juga indiegogo.com; crowdcube.com, sementara di Indonesia ada situs wujudkan.com dan patungan.net!

Mencari dana lewat situs crowdfunding sebenarnya tidak terlalu sulit. Pelaku usaha hanya tinggal meng-upload profil usahanya di sebuah situs crowdfunding. Dengan memanfaatkan jaringan internet, setiap orang bisa melihat dan menggelontorkan dananya untuk membiayai sebuah profil usaha, dengan jumlah yang biasanya sudah ditentukan besarannya. Lantas apa yang akan didapatkan oleh investor? Bentuknya bisa bermacam-macam, yaitu berupa kepemilikan saham (equity based crowdfunding), bagi hasil (lending based crowdfunding), reward atau hadiah kecil bukan uang (reward based crowdfunding), dan non kompensasi atau sumbangan dana yang dilakukan tanpa pamrih (donation based crowdfunding). Non kompensasi sendiri biasa terjadi pada penggalangan dana yang bersifat kemanusiaan atau sosial.

Mengapa tidak ada produk? Karena crowdfunding bukan toko online yang menyediakan produk siap jual. Crowdfunding hanya menawarkan proyek menciptakan atau meneruskan produk yang belum sempurna. Dimana dengan crowdfunding diharapkan pencipta proyek dapat menarik dukungan dana untuk menyelesaikan proyeknya.

Dengan sifatnya yang cair, terbukti model pendanaan seperti ini berkembang pesat. Menurut data dari crowdsourcing.org, saat ini tak kurang dari 500 situs crowdfunding aktif tersebar di seluruh dunia. Bahkan di Amerika Serikat, para pengambil kebijakan negeri itu telah mengesahkan Undang-Undang Crowdfunding. Undang-Undang inilah yang mengatur, para pelaku usaha diperbolehkan untuk menggalang dana hingga US$1 juta per tahun, dari situs-situs crowdfunding yang terdaftar di US Securities and Exchange Comission (SEC).

Lantas bagaimana dengan di Indonesia? Meski belum tumbuh signifikan, beberapa situs crowdfunding mulai menunjukkan tajinya. Salah satunya adalah situs crowdfunding yang digawangi oleh Mandy Marahimin, wujudkan.com. Situs yang mulai berdiri pada bulan Februari 2012 ini sudah dipercaya oleh berbagai proyek, baik komersil maupun tidak. Karya arsitektur Atap Untuk Rumah Uay, modul pendidikan animasi Bayu dan Elektra Menyalakan Kota, film non-naratif Epic Java, hingga film layar lebar besutan Mira Lesmana Atambua 39C, adalah contoh-contoh proyek yang lahir dari situs ini. Ada juga game horor buatan anak Indonesia berjudul DreadOut. DreadOut mencamtumkan angka $25.000 untuk dana yang dibutuhkan, sedangkan dana yang terkumpul mencapai $29.067 melebihi target yang ditentukan.

Orang-orang yang terlibat dalam pendanaan Crowdfunding pada prinsipnya adalah investor. Seperti investor pada umumnya, pendukung suatu ide proyek di sistem crowdfunding juga terpapar pada kemungkinan mengalami salah perhitungan, kerugian, bahkan kegagalan. Orang-orang yang tertarik dan bersedia menyumbangkan uangnya pada suatu proyek tertentu disebut backers. Dalam hal ini ada dua kemungkinan yang harus dihadapi backers. Pertama, proyek yang didukung backers tidak dapat dijalankan. Ini terjadi karena proyek tersebut tidak mendapat cukup dana atau kekurangan pendukung. Jadi, backers yang sudah terlanjur mendukung proyek tersebut akan menerima kembali sejumlah uang yang mereka kirimkan sebelumnya. Kedua, jika proyek ditindaklanjuti dan menguntungkan maka backers dapat menagih janji kepada pencipta proyek tersebut.

Lalu, bagaimana jika dalam batas waktu yang ditentukan (misal 3 bulan) ternyata dana yang berhasil dikumpulkan tidak mencapai target? Uang-uang yang telah diberikan oleh para donatur akan dikembalikan lagi ke rekening mereka masing-masing oleh pengelola situs crowdfunding. Namun jika telah memenuhi target, dana patungan tersebut akan dikirim ke rekening anda dan biasanya dipotong 5% untuk jasa pengelola situs crowdfunding. Langkah selanjutnya adalah anda mulai bersiap mengerjakan project anda dan mempertanggungjawabkan dana tersebut kepada para donatur (atau disebut juga backers) sesuai dengan janji-janji yang telah anda cantumkan pada proposal anda.

Ada banyak cerita manis yang berhasil menciptakan entrepreneur-entrepreneur muda berkat adanya skema bantuan modal crwodfunding. Jika anda mengunjungi situs kickstarter.com, ada ribuan kisah sukses orang-orang yang awalnya tidak punya modal tapi punya ide bisnis yang kreatif kemudian akhirnya berhasil menjadi wirausaha mandiri. Salah satu contohnya adalah Jay Silver asal California yang berhasil memperoleh suntikan dana lebih dari 5 miliar rupiah yang dihimpun dari 11 ribu donatur, padahal target yang dibutuhkan hanya sebesar 250 juta rupiah untuk mengembangkan proyek teknologinya yang diberi nama Makey-Makey. Namun dibalik cerita-cerita sukses tersebut, tak sedikit pula orang-orang yang menghadapi tuntutan hukum karena kelalaiannya sehingga tidak mampu memenuhi janji-janji yang diutarakan pada proposalnya. Jadi, jika anda ingin menggali bantuan modal usaha lewat skema crowdfunding, maka yakinkan diri anda bahwa ide proyek yang anda ajukan tersebut akan dapat anda kerjakan dengan sukses dan bermanfaat.

Jadi, siapa bilang bisnis harus dimulai dengan modal sendiri. Anda juga bisa menjadi pencipta suatu proyek dengan modal ide brilian. Atau jika Anda punya ketajaman spekulasi dan membaca pasar, maka Anda bisa mempertimbangkan opsi untuk menjadi pendukung proyek-proyek potensial lewat situs crowdfunding, bukan tidak mungkin mimpi-mimpi anda akan segera terwujud. Selamat mencoba!

Dari berbagai sumber

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: