Disewakan: Pria Tampan

Indonesia pernah dihebohkan film dokumenter ‘Cowboys in Paradise’ yang mengisahkan kehidupan para ‘koboi’ — gigolo di Pulau Bali. Fenomena yang sama juga terjadi di Malaysia. Bedanya, tidak ada film dokumenter yang mengisahkan soal pelacuran di negeri jiran. Para pekerja seks laki-laki bekerja secara terselubung atau terorganisasi.

New Straits Times,  Minggu 4 Juli 2010 mengungkap kisah pekerja ‘plus-plus’ di Malaysia. Salah satunya bernama Gary, bukan nama sebenarnya, 36. Setelah mendapatkan diploma dari Bali, dia bekerja sebagai pemijat profesional di Kuala Lumpur.

Wajahnya yang tampan dan tubuhnya yang bagus membuatnya populer di kalangan klien.

“Aku mencintai pekerjaan saya sebagai pemijat, hasilnya memuaskan.  Namun, tak butuh waktu lama untuk mengetahui bahwa perempuan tak hanya tertarik dipijat, mereka mencari yang ‘plus-plus’,” kata dia.

Awalnya Gary mengaku syok. “Tapi lalu aku sadar, dari sana aku bisa mendapatkan banyak uang.”

Itu tiga tahun yang lalu, kini usaha Gary berkembang dari pemijat ‘plus-plus’ kini ia punya 60 escort — pendamping — pria maupun wanita.

Soal pelanggan perempuan, Gary membantah hanya tante girang yang ingin dilayani ‘pria sewaan’.

“Anda akan terkejut jika tahu bahwa pelanggan perempuan kami berusia 20-40 tahun. Beberapa di antaranya sangat cantik — saya juga heran mengapa mereka butuh escort, padahal mereka bisa dengan mudah mencomot pria dari jalan,” kata dia.

Banyak istri-istri yang memesan escort saat suami mereka pergi.

Para escort, selain mendapatkan gaji lima digit dalam ringgit, juga mendapat jam tangan mahal. Itu yang jadi daya tarik.

Kata Gary, Industri penyediaan escort di Malaysia berkembang cepat. “Tapi, hati-hati banyak juga yang palsu — mereka tak bisa memijat dan tak punya kepribadian.”

Maksudnya? “Mereka hanya ingin seks bebas. Ketika seorang perempuan lugu menyewa escort semacam ini mereka menempatkan diri dalam bahaya.”

Terpisah, David, bukan nama sebenarnya, adalah mahasiswa asing di Malaysia. Dia mengaku sebagai ‘escort independen’ yang menawarkan diri lewat internet.

Dia berdalih mencari uang untuk membiayai kuliahnya. Kini, David punya 2-3 pelanggan. Namun, kini dia mencari seorang pelanggan kaya yang mau menjadikannya ’simpanan’.

“Saya tidak keberatan memberi pelayanan eksklusif padanya, selama ia bisa membiayai beberapa pengeluaran saya sampai studi saya selesai.”

David mengaku terpaksa memilih jalan ini. Meski tahu, hati keluarganya akan hancur jika mereka tahu apa yang dia lakukan.

Sementara, operator sebuah web gigolo…, Daniel Richter, mengaku telah menjadi gigolo selama lebih dari enam tahun.

“Saya mulai pekerjaan ini sejak kuliah, untuk kesenangan dan tentu saja uang.” kata dia.

Pelanggannya beragam, dari perempuan karir yang sibuk sampai gadis-gadis remaja yang ingin ‘pelengkap pesta’. Ada juga perempuan paro baya yang hanya ingin curhat.

Meski punya pekerjaan tetap, bagi Richter, menjadi gigolo adalah sebuah tantangan.

“Pekerjaan utama saya sebenarnya konsultan pajak. Jadi gigolo lebih merupakan ‘olahraga. Untuk menarik pelanggan perempuan adalah tantangan, karena mereka tidak hanya menginginkan ‘tubuh’.”

• VIVAnews

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: