Dampak Negatif Televisi Terhadap Perkembangan Generasi Muda

tv4Perkembangan di era modern ini kita telah difasilitasi berbagai macam sumber hiburan yang dapat membantu menghilangkan rasa bosan dan kejenuhan setelah sibuk beraktifitas seharian. Salah satunya televisi. Televisi merupakan salah satu sumber hiburan paling menyenangkan dan memberikan banyak informasi dengan berbagai macam acara-acara yang akan membuat diri kita lebih rileks dan santai.

Hiburan memang diperlukan sebagai salah satu cara untuk menghilangkan rasa penat dan mengurangi tingkat kestresan seseorang namun kita harus tetap waspada, jangan sampai hiburan tersebut mempengaruhi psikologi kita sehingga menjadi generasi drama. Apa itu generasi drama? Generasi drama adalah generasi yang dramatis atau generasi yang gemar meniru kehidupan seolah-oleh seperti pada sinetron, film atau drama-drama korea.

Saat ini pertelevisian di Indonesia memang cukup didominasi dengan berbagai acara sinetron dan drama yang berbau konflik, percintaan, perebutan kekuasaan, perdebatan dll. Rating untuk acara-acara seperti ini memang terus meningkat setiap harinya bahkan sampai ada acara sinetron yang bisa sampai menghabiskan 7 session karena minat pasar yang terus meningkat. Tentu saja hal ini membuat produser-produser lain termotivasi untuk ikut membuat acara yang serupa. Sehingga hampir seluruh saluran televisi masing-masing memiliki acara sinetron atau drama yang berbeda-beda judul dan pemainnya namun tema ceritanya kebanyakan sama.

Lalu bagaimana dampak pertumbuhan mental generasi muda Indonesia yang tiap harinya dicekoki acara-acara yang dipenuhi drama dengan berbagai macam konflik kehidupan didalamnya. Tanpa sadar acara-acara tersebut akan menjadi doktrin didalam diri penontonnya, seolah-olah apa yang terjadi didalam drama juga bisa saja terjadi didunia nyata. Banyak adegan-adegan atau perilaku dalam drama yang tidak mendidik namun justru dijadikan pedoman bagi para remaja.

Dampak yang paling sering terlihat adalah banyak anak-anak sekolah yang menggunakan seragam yang melanggar aturan sekolah seperti menggunakan kemeja ketat dan rok diatas lutut. Setelah ditelusuri ternyata mereka sedang mengikuti mode yang ada di dalam sinetron yang menampilkan para pemain remaja yang berdadan seperti itu ketika sedang berada disekolah dan mereka anggap itu keren. Belum lagi maraknya kasus bunuh diri yang dilakukan para remaja hanya karena masalah-masalah sepele. Kemungkinan besar mereka sampai berani melakukan hal tersebut setelah mendapatkan referensi dari salah satu drama yang menampilkan adegan bunuh diri ketika dilanda masalah.

Sungguh miris memang, acara-acara seperti itu sebenarnya hanya sebuah acara hiburan yang sama sekali tidak memberikan unsur pendidikan didalamnya. Namun justru acara-acara seperti itulah acara rating paling tinggi, dan dijejari iklan bernilai jual mahal. Kehidupan manusia tidak bisa disamakan dengan apa yang ada dilayar kaca. Mereka semua yang bermain didalam drama dibayar untuk mengikuti sekenario dan arahan sutradara, semuanya sudah diatur oleh manusia. Sedangkan kehidupan? Jelas sangat berbeda. Maka dari itu perlu adanya pengawasan yang tepat agar otak dan mental generasi-generasi muda Indonesia tidak tumbuh menjadi generasi drama.gsutradara, semuanya sudah diatur oleh manusia. Sedangkan kehidupan? Jelas sangat berbeda. Maka dari itu perlu adanya pengawasan yang tepat agar otak dan mental generasi-generasi muda Indonesia tidak tumbuh menjadi generasi drama.generasi-generasi muda Indonesia tidak tumbuh menjadi generasi drama.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: